Indonesia Membaca

Sabtu, 15 November 2008

Tembang Pejalan



Terinspirasi Dari seorang Yang mengingatkan pada masa lalu,jadi kangen nih untuk kembali arround the world (cita2 yg terpending entah sampai kapan,tapi mesti tetep dipupuk angan itu)Rg2 mencoba mengeruk kilatan sejarah yang manis dan emang perlu dikenang.

Lihatlah rambut gondrong,bau matahari jeans lusuh + sarung (khusus saya :P )ciri khas pejalan atau kerennya avonturir begitu lekat,angkutan umum yang merakyat bersama masyarakat kebanyakan penghuni negeri ini,bau kesedihan dan aroma penderitaan begitu terasa.
Bersambung

Read More......

Sabtu, 08 November 2008

KANG SEJO MELIHAT TUHAN

Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di
depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya,
Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot
mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk
mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat
meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak
Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan
wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya
saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika
itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita.
Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di
bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati
tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia
kaum sufi.


Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di
dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa,
sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang
doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar.
Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak
banyak itu saya amalkan.

"Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat
apa?" kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel
Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini,
selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa
hidup jadi kepenak, nikmat.

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut "raja." Wanita ini
hamba yang total. Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak
menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia
berkata, "Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi,
berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau
limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada
sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup."

Ini tentu berkat ke-"raja"-annya. Lumrah. Lain bila itu
terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya
sebut itu- tunanetra.

Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu.
Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah
tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet
apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau
yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.

"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga
sederhana," katanya, sambil memijit saya.

Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya
orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender.
Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya
tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang,
"Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja,
di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas
di tangan.

"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.

"Tidak saya hitung."

"Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai,
baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya

"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi
kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa
hitungan."

"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.

"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang
pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"

"Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak
terduga," katanya.

"Ayat menyebutkan itu, Kang."

"Monggo mawon. Saya tidak tahu."

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

"Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?"

"Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."

"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."

Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya.
Karena disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, yang tak
pernah tidur ..." Pemberi zakat itu, entah bagaimana,
ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta
maaf.

"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.

"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."

"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"

"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah
sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan
aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus

---------------
Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991


Read More......

Sabtu, 18 Oktober 2008

Gusti Allah Tidak Ndeso (sebuah Renungan dr EmHa)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun :

"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.



"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan:

Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.

Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.

Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.

Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.

Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.

Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).

Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.

Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."

Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.

Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.

Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya.

Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh kedalam .

Read More......

Jumat, 05 September 2008

Laskar Pelangi Segera Tayang


Laskar Pelangi salah satu buku dari tetralogi laskar pelangi karya andrea hirata yang diangkat ke layar lebar segera tayang.Menurut Mira Lesmana selaku produser Film LP akan release 25 september 2008.Tentu Pagi penikmat karya andrea hirata launching film tersebut tentu sangat ditunggu,bagi yang belum sempat membaca juga menimbulkan rasa penasaran atas film yg diambil dari buku best seller.

Ayat-Ayat Cinta Telah memulai dengan sangat fenomenal meski banyak kalangan menengarai sebenarnya film itu sendiri tak sefenomenal Novelnya,diluar itu antusiasme masyarakat terhadap genre film baru mulai tumbuh,hal ini juga mungkin didukung kejenuhan penikmat film yang terus menerus disuguhi film horor dan komedi yang mengarah pada sex murahan.
Kembali pada laskar pelangi,kemarin telah di launching OST dari laskar pelangi yg didukung oleh Nidji,Gita Guttawa dll mendahului filmnya,menurut mira lesmana itu dilakukan untuk memperkenalkan dulu film itu ke khalayak rami.
Semoga sukses Laskar Pelangi.
Untuk LEngkapnya Silahkan kunjungi www.laskarpelangithemovie.co.cc
Berikut Salah Satu OST Laskar Pelangi Yang dinyanyikan Nidji
Lirik lagu Nidji - Laskar Pelangi

mungkin adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
telah hilang
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya

laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau ini kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa
walau dunia takseindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia

selamanya…

1 Read More......

Sabtu, 16 Agustus 2008

63 Tahun Indonesia


63 Tahun Indonesia Merdeka,Masih banyak tugas yang mesti kita lakukan,prestasi indonesia "terbaik" adalah negara paling korup no 3 didunia.Bukankah kita mengaku bangsa yang relijius,bangsa beradab dan menjunjung tinggi nilai dan moral.Tapi ini nyata real dan harus kita berantas bersama.
63 Tahun menorehkan prestasi lain sebuah slogan "Habis Terang terbitlah Gelap" yang dinukil karena pemadaman bergilir,prestasi yang sangat hebat karena kita kembali di masa tahun 65.

Indonesia yang gemah ripah loh jinawi kaya sumber daya alam mengalami kekurangan dari sumber dari alam ? bukankah ada yang salah dalam manajemen kita? Pemimpin kita bukan tidak mengerti tapi sayang tidak mau mengerti,sumber daya kita disedot negara asing,dari aceh sampai papua dikuasai pihak asing.kita hanya mendapat sejumput dari hasil sumber daya yang melimpah.sungguh merana nasib bangsa ini.
Kami sudah bosan dengan keluhan,toh keluhan tidak pernah ditanggapi,janji janji selalu manis tapi pahit dalam pemenuhan janji.ironis.
"Terbanglah Garudaku Singkirkan Kutu-kutu disayapmu.
Berkibarlah Benderaku Singkirkan Benalu ditiangmu.
Bangunlah Putra Putri Pertiwi,Mulai hari ini kita berjanji,
garuda bukan burung perkutut.
Sang saka bukan Sandang Pembalut.
Pancasila Bukan Rumus Kode Buntut"
Iwan Fals (Bangunlah Putra Putri Pertiwi)
Selamat Ulang Tahun Indonesiaku
Semoga Kami Bisa Membuatmu Lebih Bangga
Read More......

Selasa, 29 Juli 2008

Mengapa Harus Aku ????


Suatu hari seorang anak kecil sendiri dan menangis meratapi nasibnya,bapaknya tukang judi dan suka memukul,ibunya pergi entah kemana,mungkin tidak tahan dengan kelakuan suaminya itu.anak itu menangis tersedu,pipinya merah bekas telapak tangan bapaknya.tubuhnya menggigil akibat rasa sakit dan takut serta lapar yg bersinergi menyerang tubuhnya yang kurus.Dia menghampiri Seoarang tua yg cukup terpandang dikampung itu,dan bertanya " Pak haji kenapa nasib jelek ini menimpaku?,kenapa harus aku yang menerima beban ini?".

Kejadian diatas tentu sering kita alami dengan kasus yang berbeda.Seringkali Timbul Dalam Benak kita meski tidak terucap dalam pembicaraan,mengapa harus aku yang mengalaminya.kenapa tidak ditimpakan pada orang lain. dan banyak keluhan dan pertanyaan menggelanyut dalam benak kita.Dalam Kacamata Qur'an telah disebutkan "Tidaklah Aku Menguji Seseorang melainkan atas Kemampuannya".Dapat kita ambil sebuah makna bahwa semua yang diberikan pada kita tentu sudah ditakar atas kekuatan kita.Dalam artian bahwa semua yg ditimpakan(lebih tepat yg dianugrahkan) pada kita baik itu sebuah luka dan kecewa serta beban ataupun bencana tentu sudah ditimbang berdasarkan kekuatan kita untuk memecahkannya,demikian juga dengan kebahagiaan atau kekayaan tentulah sudah disesuaikan dengan kemampuan kita untuk dilimpahi anugrah tersebut.Dengan bahasa lain bahwa kita adalah orang yg tepat menurut allah untuk mendapatkan cobaan dan ujian (dalam bentuk kesedihan atau kebahagiaan),karena jikalau ditimpakan pada orang lain belum tentu mereka kuat untuk memangku anugrah itu.Bukankah disetiap ujian ada kenaikan tingkat?demikian juga dg ujian tuhan,bilamana kita mampu melewatinya maka kenaikan derajat akan menjadi milik kita,derajat lebih tinggi dimata allah dan dimata manusia.
Dari sudut pandang yang berbeda erbesentanu penulis buku Quantum Ikhlas menjelaskan tentang hukum tarik menarik yang berlaku di alam “Universal Law of Attraction”.
bahwasanya apa yg kita pikirkan dan kita pendam dalam hati secara focus dan continue akan menjadi kenyataan dan terjadi.
”Anda menarik apapun yang paling sering anda pikirkan, apakah anda menginginkannya atau tidak. Berpikir tentang sesuatu hal – baik ataupun buruk – sama saja dengan merencanakan hal itu terjadi. Jika anda berfikir tentang keindahan, maka anda merencanakan keindahan untuk terjadi dalam hidup anda. Jika anda berfikir (mencemaskan) tentang kesulitan, berarti anda mencemaskan kesulitan itu untuk terjadi dalam hidup anda” (Quantum Ikhlas : 51 –52)
Dalam bahasa saya penjabaran dari erbesentanu adalah bagaimana kita mengatur mainset,memanajemen olah pikir,rasa dan karsa.menyatukan semuanya dalam hati dan pikiran serta terus menerus dan disertai usaha nyata untuk mewujudkannya.
Pada akhirnya memang kata ikhlas adalah kunci dari semua perbuatan kita,berpikir positif pada rencana tuhan dan melakukan mainset ulang terhadap tujuan hidup kita adalah bahan bakar untuk mendorong laju mesin kehidupan kita.Tentu saja berusaha untuk tetap dalam jalur yang seharusnya adalah rambu rambunya.
Read More......

Jumat, 18 Juli 2008

Labirin Lazuardi; Langit Merah Saga


Melangkah bersama doa
menyusuri jejak Tuhan
pada angin memukul ranting
batu terkikis embun
karena aku tak bertuan
datang menjemput
pahatan waktu.

Bismillaah,
mengapa harus kuteriakkan
bila jejak begitu dekat
mematri nadi Read More......